Yunarto ‘Charta Politika’ Diteror Usai Quick Count, Polri: Silakan Melapor

31

Forbes – Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya mengaku diteror lewat pesan WhatsApp dan telepon setelah pengumuman hasil hitung cepat atau quick count Pilpres 2019. Polisi mempersilakan Yunarto untuk melapor.

“Harus melapor kalau merasa hak privasinya terganggu, dengan ancaman-ancaman seperti itu,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo saat dihubungi, Sabtu (20/4/2019).

Dedi mengatakan laporan resmi yang dibuat Yunarto akan membantu polisi dalam proses penyelidikan. Polisi, menurut Dedi, nantinya akan meminta klarifikasi kepada Yunarto terkait bentuk ancaman yang diterima.

“Harus lapor, ancaman itu kan berupa apa, ancaman berupa narasi, ancaman berupa verbal, itu harus diminta klarifikasi,” ujarnya.

Selain itu, Dedi menjelaskan mengenai konten hoax dan provokatif di media sosial yang meningkat beberapa hari terakhir ini. Polri disebut Dedi sudah bekerja sama dengan Kemenkominfo dan BSSN untuk menangani konten-konten tersebut.

“Kalau di media sosial sudah dideteksi, akun-akun yang menyebarkan konten-konten yang sifatnya hoax, sifatnya provokatif, sifatnya negatif, itu sudah dideteksi. Dari mulai hari Rabu kemarin sampai hari ini. Langkah-ngkah mitigasi, kerja sama dengan Kemenkominfo dan Badan Siber Sandi Negara (BSSN) mentake down. Untuk proses penyidikan masih perlu pendalaman beebrapa alat bukti, kalau sudah cukup ya nanti kepolisian akan melakukan langkah penegakan hukum,” ujarnya.

Sebelumnya, Yunarto mengaku mendapat pesan dan telepon bernada ancaman setelah pengumuman hasil quick count Pilpres 2019. Dia mengaku sudah mem-block ratusan telepon yang ‘meneror’ dirinya.

“Sudah seratus lebih nomor saya block dalam 2 hari,” kata Yunarto lewat pesan singkat, pagi tadi.

Salah satu pesan yang diterima Yunarto menuduh dirinya sudah berbuat curang. Pesan itu juga mencaci maki Yunarto dengan kata-kata kasar.

Terkait ancaman itu, Yunarto masih mempertimbangkan sejumlah hal sebelum melaporkan kasus itu ke polisi. Dia menyebut pesan ancaman yang diterimanya merupakan mainan dari para provokator.

Baca Juga:   Gempa Magnitudo 4,6 Terjadi di Kepulauan Banda

“Kita lihat kondisi dulu saja, saya percaya semua pihak ingin situasi damai kok, ini cuma mainan provokator saja,” imbuh dia.

Anda mungkin juga berminat